IDEAtimes.id, MAKASSAR – THM W Super Club milik yang diduga milik pengacara Hotman Paris terus mendapat penolakan di kota Makassar.
Sejumlah ormas Islam seperti Muhammadiyah, BMI, HMI hingga MUI ikut menyoroti keberadaan W Super Club.
Pasalnya, THM tersebut berada di lokasi Centre Poin of Indonesia (CPI) dan berdekatan dengan Masjid 99 Kubah yang terletak di lokasi yang sama.
Para ormas Islam dan masyarakat juga mempertanyakan izin usaha THM terbesar di kota Makassar itu.
Ketua Brigade Muslim Indonesia (BMI) Sulsel Zulkifli mengatakan, penolakan yang mereka layangkan itu untuk menyelamatkan generasi muda.
‘Ini demi keselamatan generasi muda. Cukup yang ada sekarang jangan lagi tambah yang baru.” ungkap Zul saat dihubungi, (31/5).
“Sehingga sebagai Ketua BMI Sulsel dan Ketua Karang Taruna kota Makassar, saya meminta pemerintah provinsi Sulawesi Selatan agar menutup tempat tersebut ” tegasnya.
Zul menjelaskan, beradasarkan data yang ia pegang, W Super Club diduga hanya memiliki izin bar saja bukan diskotik.
“Izin operasional cuma Bar bukan THM atau diskotik, itu yang kami dapat.” tambahnya.
Zul pun menegaskan kembali jika kehadiran W Super Club yang berdekatan dengan tempat ibadah akan membuat murka masyarakat kota Makassar.
“Jangan sampai masyarakat Makassar murka lantas turun menutup sendiri THMnya. Tapi saya jaminkan kalau pemprov tidak tutup maka saya akan pimpin massa untuk menutup W Super Club.” tandasnya.
Sementara itu, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Makassar mengeluarkan surat tanggapan perihal W Super Club.
Surat tanggapan tersebut berkaitan dengan surat pernyataan sikap dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Makassar terkait penerbitan izin operasional W Super Club
Kepala DPMPTSP Kota Makassar, Helmy Budiman mengatakan terkait W Super Club pihaknya telah menelusuri berdasarkan OSS. Sesuai aturan ini bukan kewenangan Pemerintah Kota Makassar.
“Tetapi kita sudah koordinasi dengan PTSP Pemprov Sulsel. Sebab, perihal izin yang telah diterbitkan itu tidak bisa diganggu gugat oleh Pemerintah Kota,” ujarnya, Kamis (30/05/2024).
Helmy menambahkan bahwa, NIB terbit di Tahun 2023. Izin operasional yang diterbitkan sebagai zin usaha bar, 24 Mei 2024.
Adapun surat tanggapan Pemerintah Kota yang dikeluarkan DPMPTSP, sebagai berikut;
Menanggapi pernyataan sikap Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Makassar, sebagaimana surat yang dilayangkan kepada Pemerintah Kota Makassar pertanggal 29 Mei 2024, tentang pembukaan/peresmian W Super Club di Kota Makassar pada tanggal 27 Mei 2024.
Maka dapat disampaikan beberapa hal sebagai berikut:
1. Bahwa berdasarkan regulasi penyelenggaraan perizinan berusaha diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Resiko dan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha di Daerah. Dan dalam pelaksanaan proses penyelenggaraan Perizinan Berusaha diselenggarakan secara elektronik menggunakan aplikasi Online Single Submission Risk Based Approach (OSS-RBA) melalui link www.oss.go.id
2. Kemudian pada pasal 22 PP Nomor 5 Tahun 2021, disebutkan bahwa dalam Pelaksanaan penerbitan Perizinan Berusaha sesuai dengan kewenangan masing-masing dilaksanakan oleh. (a) Lembaga OSS; (b) Lembaga OSS atas nama Menteri/Kepala Lembaga: (c) Kepala DPMPTSP Provinsi atas nama Gubernur. (d) Kepala DPMPTSP Kota atas nama Wali Kota: (e) Administrator KEK: dan (1) Kepala Badan Pengusahaan KPBPB.
3. Bahwa dalam rangka penerbitan izin operasional W Super Club di Kota Makassar menggunakan OSS-RBA dimana terdapat 2 jenis kegiatan berusaha didalamnya meliputi: (a). Kegiatan Usaha Bar (KBLI 56301) kewenangan berada pada pemerintah provinsi untuk parameter Provinsi; (b). Kegiatan Usaha Kelab Malam Atau Diskotek Yang Utamanya Menyediakan Minuman (KBLI 56302) kewenangan berada pada pemerintah provinsi untuk parameter Provinsi
4. Berdasarkan beberapa hal tersebut diatas serta hasil penelusuran pada OSS- RBA DPMPTSP Kota Makassar, maka dapat kami sampaikan bahwa pertzinan W Super Club di Kota Makassar telah diterbitkan oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan melalui Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Sulawesi Selatan dan bukan merupakan kewenangan Pemerintah Kota Makassar. (*)