IDEAtimes.id, MAKASSAR – Suara hati masyarakat di Makassar dalam Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) 2026 sampai ke telinga anggota dewan.
Masyarakat di Kota Anging Mammiri itu mengaku kecewa terhadap sistem seleksi yang dianggap belum sepenuhnya mencerminkan integritas.
Merespons hal itu, Anggota Komisi X DPR RI Eva Stevany Rataba menekankan bahwa proses seleksi dan standar biaya pendidikan tinggi harus mengedepankan sisi kemanusiaan, transparansi, serta keadilan bagi seluruh lapisan masyarakat.
“Setiap reses, apalagi yang kemarin ini, banyak curhatan dari anak-anak. Mereka berharap bahwa seleksi penerimaan mahasiswa baru ini betul-betul bisa dilaksanakan dengan lebih adil, lebih transparan, serta lebih berintegritas. Di mana mereka ini berharap bahwa, nilai rapor kadang dipermainkan,” ungkap Eva saat melakukan kunjungan kerja spesifik Komisi X DPR RI di Universitas Negeri Makassar, Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (10/4/2026).
Ia juga berharap kriteria kelulusan tidak hanya terpaku pada angka-angka di atas kertas, tetapi juga melihat aspek kepribadian.
“Mereka berharap bahwa seleksinya bukan hanya melihat dari nilai akademik tetapi juga melihat dari potensi karakter dan semangat belajar dari calon mahasiswa. Banyak yang menangis, saya sudah belajar tapi kenapa saya tidak lulus,” tambah wakil rakyat dari Dapil Sulsel III ini.
Terkait standar satuan biaya pendidikan tinggi, Politisi Fraksi Partai NasDem ini mendesak agar penyusunannya dilakukan dengan melihat kondisi riil ekonomi masyarakat, khususnya di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T).
Ia menegaskan jangan sampai faktor ekonomi memutus mimpi generasi muda untuk kuliah.
“Kami pun berharap bahwa di dalam menyusun standar biaya penduduk tinggi ini Mungkin bisa disusun secara proporsional Dan berkeadilan dengan memperhatikan kondisi ekonomi masyarakat ini. Dengan kata lain membuka akses seluasnya Melalui skema pembiayaan yang lebih fleksibel Yang tidak memperlakukan kepada masyarakat apalagi di daerah 3T. Karena memang banyak anak-anak kita di daerah 3T itu yang ingin masuk ke salah satu pertumbuhan tinggi Tetapi ini terjadi masalah biaya,” tegasnya.
Menutup pernyataannya kepada para rektor, ia meminta agar perguruan tinggi menjadi institusi yang inklusif dan mempermudah jalan bagi masa depan generasi muda.
“Dan terkait dengan standar biaya pendidikan ini Kami pun berharap bahwa sekali lagi disusun dengan hati dan nurani yang baik agar tidak menjadi tembok penghalang Melainkan jembatan yang bisa mengantarkan anak-anak kita generasi muda ini menuju masa depannya yang lebih baik,” pungkas Eva. (*)