IDEAtimes.id, MAKASSAR – Ikatan Pelajar Mahasiswa Indonesia Luwu – Palopo (IPMIL-Palopo) yang selama ini menjadi wadah mahasiswa asal Palopo di Kota Makassar, kini dinilai mengalami kondisi “mati suri”.
Tidak hanya aktivitas organisasi yang mulai vakum, kepemimpinan organisasi pun disebut tidak jelas.
Sekretariat organisasi yang berada di Komplek Tirta Nusantara II, Kelurahan Tello Baru, Kota Makassar, dikabarkan sudah lama sepi aktivitas.
Berbagai agenda seperti diskusi, kaderisasi, rapat rutin, hingga kegiatan sosial mahasiswa nyaris tidak lagi terdengar.
Kondisi tersebut semakin diperparah dengan ketidakjelasan struktur kepengurusan organisasi.
Hingga saat ini, sejumlah mahasiswa mengaku tidak mengetahui siapa Ketua Pengurus Pusat IPMIL Palopo yang aktif menjabat saat ini.
“Banyak mahasiswa bahkan tidak tahu siapa ketua PP sekarang. Tidak ada informasi yang jelas mengenai kepengurusan maupun program kerja organisasi,” ujar salah satu mahasiswa asal Palopo, Selasa, (19/5).
Situasi ini menimbulkan pertanyaan besar terkait keberlangsungan organisasi yang sebelumnya dikenal aktif dalam menghimpun mahasiswa daerah di Makassar.
Beberapa alumni menilai lemahnya komunikasi internal dan tidak adanya regenerasi yang berjalan baik menjadi penyebab utama menurunnya eksistensi organisasi.
Selain kehilangan arah kepemimpinan, IPMIL Palopo juga dinilai mulai kehilangan fungsinya sebagai ruang pengembangan intelektual dan solidaritas mahasiswa.
Padahal, organisasi tersebut pernah menjadi tempat lahirnya berbagai kegiatan mahasiswa serta forum perjuangan aspirasi daerah.
Sejumlah mahasiswa berharap para senior dan alumni dapat segera mengambil langkah untuk melakukan pembenahan organisasi, termasuk memperjelas struktur kepengurusan dan mengaktifkan kembali sekretariat organisasi.
“Kami berharap ada sosok yang mampu menyatukan kembali mahasiswa dan menghidupkan IPMIL seperti dulu,” ungkapnya.
Kini, keberadaan IPMIL Palopo menjadi sorotan di kalangan mahasiswa asal Palopo di Makassar.
Banyak pihak berharap organisasi tersebut dapat segera bangkit dan kembali menjalankan perannya sebagai rumah bersama mahasiswa daerah. (*)