IDEAtimes.id, JAKARTA – Ketua Umum IKA UIN Alauddin Makassar, Idrus Marham, meminta pemerintah Indonesia mengambil sikap tegas atas memanasnya konflik di Timur Tengah.
Saat ini, kawasan Timur Tengah sedang memanas menyusul serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Menurut Idrus, pada tahap awal Indonesia perlu menyampaikan pernyataan resmi yang menegaskan ketidaksetujuan terhadap langkah militer yang dilakukan AS dan Israel.
Ini prinsip! tegas Idrus
Sikap itu penting sebagai penegasan posisi politik luar negeri Indonesia, sekaligus menjadi “warning” diplomatik atas keterlibatan Indonesia dalam forum Board of Peace (BoP) bentukan Presiden AS Donald Trump.
Sikap ini menunjukkan konsistensi Indonesia dalam memegang teguh prinsip bebas aktif sebuah doktrin yang sejak awal menempatkan Indonesia sebagai kekuatan diplomasi di antara blok-blok kepentingan global yang saling beradu.
“Pernyataan tegas tidak setuju atas penyerangan tersebut penting, sebagai peneguhan prinsip politik luar negeri kita. Namun, ketidaksepakatan itu tidak serta-merta harus dimaknai dengan keluar dari forum internasional,” ujar Idrus dalam keterangannya via Telepon, Selasa (3/3/2026).
Lebih jauh Idrus mengungkap, Keluar dari BoP bukan perkara sulit bagi Indonesia.
Tapi sikap ini tidak memberi dampak kondusif bagi arah penyelesaian konflik.
Justru di sinilah letak kecerdasan diplomasi yang diharapkan dari Jakarta: bagaimana Indonesia tetap hadir dalam forum BoP, namun dengan suara yang tegas, jernih dan tidak ambigu.
Indonesia jelas-jelas, masuk ke forum BoP tidak dengan niat hadir tanpa sikap! Indonesia Tidak berniat hanya duduk manis di tribun penonton pasif.
Sementara absensi total, atau memilih langkah keluar, itu juga terlalu spontan dan justru menutup ruang pengaruh yang selama ini susah payah dibangun.
Bagi Indonesia yang memiliki modal legitimasi sebagai negara muslim terbesar, anggota G20, modal ini mestinya dikapitalisasi untuk menjadikan setiap forum internasional sebagai panggung perjuangan, bukan sekadar ajang diplomasi emosional.
Harus Tetap Berpijak pada Konstitusi
Idrus menegaskan, strategi politik luar negeri Indonesia harus tetap berpijak pada nilai-nilai konstitusi, khususnya amanat Pembukaan UUD 1945, prinsip Dasasila Bandung, serta doktrin politik luar negeri bebas aktif.
Dalam konteks itu, Indonesia tidak boleh terseret arus konflik, tetapi juga tidak boleh diam terhadap pelanggaran prinsip kemanusiaan dan hukum internasional.
Idrus menjelaskan, prinsip dasar keterlibatan Indonesia dalam BoP sejak awal adalah memperkuat jalur diplomasi untuk menyelesaikan persoalan kemanusiaan. Karena itu, menurut dia, langkah penyerangan yang ditempuh AS dan Israel secara diametral bertentangan dengan tujuan forum tersebut.
“Kalau orientasinya penyelesaian secara diplomatik, maka cara-cara militer jelas bertolak belakang. Justru karena kita ada di dalam, kita bisa menunjukkan sikap tegas, menyatakan tidak setuju berdasarkan nilai dasar Dasa sila Bandung, konstitusi, dan prinsip dasar politik luar negeri,” katanya.





