IDEAtimes.id, MAKASSAR – Bursa calon Ketua DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan menjelang Musyawarah Daerah (Musda) kian memanas.
Dua nama yang kini menjadi sorotan adalah Ilham Arief Sirajuddin (IAS) dan Munafri Arifuddin (Appi), yang sama-sama memiliki peluang besar memimpin Partai Golkar Sulsel.
IAS mendapat angin segar setelah menerima surat diskresi dari Ketua Umum DPP Partai Golkar, Bahlil Lahadalia.
Surat tersebut membuka jalan bagi IAS untuk maju sebagai calon ketua, meski sebelumnya terkendala persyaratan administratif dalam mekanisme pencalonan.
Menanggapi hal tersebut, pengamat politik Arief Wicaksono menegaskan bahwa diskresi bukanlah bentuk penetapan calon ataupun jaminan kemenangan, melainkan kewenangan organisasi untuk memberikan kesempatan kepada kader yang dinilai layak mengikuti kontestasi.
“Diskresi pada dasarnya merupakan pemberian akses kepada kader yang sebelumnya belum memenuhi persyaratan tertentu. Jadi, diskresi bukan berarti seseorang otomatis menjadi ketua atau dipastikan menang dalam Musda,” kata Arief, Kamis (25/6/2026).
Menurutnya, pemberian diskresi kepada IAS berkaitan dengan pemenuhan syarat internal Partai Golkar, khususnya aspek PDLT (Prestasi, Dedikasi, Loyalitas, dan Tidak Tercela).
Rekam jejak IAS yang sempat meninggalkan Golkar dan bergabung dengan Partai Demokrat menjadi salah satu pertimbangan organisasi dalam aspek loyalitas kader.
Di sisi lain, Appi tetap berada dalam posisi yang sangat kuat. Mayoritas DPD II Partai Golkar kabupaten/kota di Sulawesi Selatan diklaim masih solid memberikan dukungan kepadanya.
Dukungan tersebut menjadi modal penting apabila pemilihan Ketua Golkar Sulsel nantinya dilakukan melalui mekanisme pemungutan suara (voting).
Ketua DPD II Golkar Tana Toraja, Victor Datuan Batara, menegaskan bahwa 21 DPD II yang telah menyatakan dukungan kepada Appi tidak akan mengubah sikap meski IAS telah mengantongi surat diskresi dari DPP.
“Pak Appi pasti maju karena seluruh persyaratan yang diminta dalam Musda sudah dipenuhi. Tidak ada alasan untuk mundur,” ujar Victor.
Ia juga memastikan dukungan dari 21 DPD II tetap solid hingga pelaksanaan Musda.
Menurutnya, sebagian besar DPD II telah menerbitkan surat rekomendasi kepada Appi sehingga tidak dimungkinkan memberikan dukungan kepada kandidat lain.
“Kalau ada yang mengeluarkan rekomendasi kedua, itu tidak sah. Sesuai Juklak Nomor 02 Tahun 2025, dukungan ganda akan dianggap batal dan tidak memiliki kekuatan,” tegasnya.
Persaingan IAS dan Appi pun diperkirakan menjadi pertarungan dua kekuatan besar di tubuh Golkar Sulsel.
IAS mengandalkan pengalaman panjang sebagai kader senior serta jaringan politik yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
Sementara itu, Appi membawa modal sebagai kepala daerah aktif dengan dukungan mayoritas struktur partai di tingkat kabupaten dan kota.
Ketua Umum DPP Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, bahkan sebelumnya mengakui dinamika perebutan kursi Ketua Golkar Sulsel cukup menyita perhatian.
Ia menyebut persaingan antara IAS dan Appi membuat dirinya “pusing” karena keduanya merupakan kader yang memiliki kapasitas dan kekuatan politik masing-masing.
Hingga saat ini, jadwal pelaksanaan Musda DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan masih menunggu keputusan resmi dari DPP Partai Golkar.
Namun, dengan menguatnya dukungan kepada kedua kandidat, Musda Golkar Sulsel diprediksi berlangsung ketat dan akan menjadi penentu arah kepemimpinan partai menjelang agenda politik mendatang. (*)