IDEAtimes.id, MAKASSAR – Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang jatuh setiap tanggal 2 Mei kembali menjadi momentum penting untuk merefleksikan arah dan kualitas pendidikan di Indonesia.
Tidak sekadar seremoni tahunan, Hardiknas diharapkan mampu mendorong evaluasi menyeluruh terhadap sistem pendidikan yang berjalan saat ini.
Chesya Tjoputra menilai bahwa perkembangan pendidikan di Indonesia menunjukkan kemajuan signifikan, terutama dengan hadirnya teknologi digital yang semakin memudahkan akses belajar bagi masyarakat.
“Secara umum, pendidikan kita sudah makin maju, apalagi dengan dukungan teknologi. Akses belajar sekarang jauh lebih terbuka, siswa bisa mendapatkan materi dari berbagai sumber dengan lebih mudah,” ujarnya.
Namun demikian, menurutnya, kemajuan tersebut belum sepenuhnya merata.
Masih terdapat sejumlah pekerjaan rumah yang perlu segera diselesaikan, khususnya terkait pemerataan kualitas pendidikan di berbagai daerah serta sistem pembelajaran yang dinilai masih terlalu berorientasi pada nilai akademik semata.
“Masih ada tantangan besar, seperti ketimpangan fasilitas pendidikan dan tenaga pendidik yang belum merata. Selain itu, sistem kita kadang masih terlalu fokus pada nilai, bukan pada proses dan pemahaman,” jelas alumni Universitas Atmajaya itu.
Ia menekankan bahwa ke depan, pendidikan di Indonesia harus mampu bertransformasi menjadi lebih holistik, dengan menekankan pengembangan keterampilan (skill) dan karakter peserta didik, bukan hanya penguasaan teori.
“Harapannya, pendidikan kita bisa lebih mengembangkan kemampuan dan karakter siswa, sehingga mereka benar-benar siap menghadapi dunia kerja dan kehidupan, bukan sekadar mengejar status kelulusan,” tambahnya.
Lebih lanjut, Chesya juga mendorong pemerintah untuk hadir secara nyata dalam menjawab tantangan pendidikan saat ini, terutama dalam upaya menciptakan sistem pendidikan yang berkeadilan dan berkualitas.
Menurutnya, langkah konkret pemerintah sangat dibutuhkan untuk memastikan setiap anak bangsa mendapatkan hak pendidikan yang layak, tanpa terkecuali.
“Pemerintah harus benar-benar hadir menghadirkan kualitas pendidikan yang berkarakter. Ini penting untuk menjawab tantangan menuju Indonesia Emas 2045,” tegasnya.
Momentum Hardiknas, kata dia, seharusnya tidak berhenti pada upacara dan seremoni semata, melainkan menjadi titik balik untuk memperkuat komitmen bersama dalam membangun sistem pendidikan yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan.
Dengan berbagai tantangan yang ada, sinergi antara pemerintah, tenaga pendidik, dan masyarakat dinilai menjadi kunci utama dalam mewujudkan pendidikan yang mampu mencetak generasi unggul di masa depan. (*)