Kamis, April 18, 2024

Opini : Ramadhan Bersama Covid-19

Terkait
spot_img

IDEAtimes.id, Opini;- Corona datang/Seolah-olah membawa pesan/Ritual itu rapuh!/Ketika Corona datang/Engkau dipaksa mencari Tuhan/Bukan di tembok Kakbah/Bukan di dalam masjid/Bukan di mimbar khutbah/Bukan dalam thawaf/Bukan pada panggilan azan/Bukan dalam shalat jamaah.

Inilah, Ramadan — bagi pengikut Muhammad SAW – diyaqini, bulan kesucian. Bulan kesembilan kalender Hijriah. Masa “getir”, dipenuhi arti untuk dimaknai. Seperti, muasal katanya, “ramida”. Yaitu “ar-Ramad”, penanda panas menyengat. Bangsa Babilonia di Utara Jazirah Arab di Selatan Mesopotamia, dulu pra-Islam menyebutnya seperti itu. “Luni-solar calender” menghitung, kalau masa “ramida” tiba, pagi hingga petang, panas matahari perih menyengat di kawasan gurun itu.

Lalu sejak Islam datang, dimulai kalender Hijriah berdasar alur bulan mengeliling bumi, sejak itu Ramadan tak lagi bertaut musim panas. Secara metaphoric, Ramadan pun beralih makna. Bulan itu umat Islam diwajibkan berpuasa. Disunnahkan “stay at home”, menahan lapar serta dahaga. Bagi yang berpuasa, berdiam diri di rumah, sesi ibadah. Tak lebih kurang sama tradisi dilakukan bangsa Babilonia. Dikala musim “ramida” tiba, mereka berlindung. Stay at home menjauhi terik.

Stay at home bagi bangsa Babilonia, serta bangsa-bangsa pra Islam, al-Qur’an Surah al-Baqarah, ayat 183, Allah SWT, berseru; “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa”.

Stay at home bagi mereka yang berpuasa, juga bangsa di Babilonia, tidak semata berhajat menjauhi terik, tapi momentum terbaik merawat ketakwaaan. Bertafakur mencari rahmat, magfirah, dan ampunan.

Ramadan, tulis penyair sufi Jalaluddin Rumi dalam buku karya agungnya, “Semesta Matsanawi”, (2018), hadir bersama gemboknya. Lalu, mulut terkunci, terbukalah penglihatan, sesaat cahaya memancar dalam diri kita. Ramadan tiba, untuk berkhidmat pada hati. Bersama, Sang penawar hati. Anand Krisna, humanis spritualis Indonesia di buku, “Kearifan Mistisisme” (2015), menulis jika puasa jalan terbaik merobohkan berhala diri, yang kita puji terang-terangan atau sembunyi.

Dan Ramadan tahun ini, bersamaan puncak Coronavirus. Pandemi yang mengglobal di seantero jagat, sama seperti wabah melanda umat manusia sebelumnya. Kita, serahi umara’, pemerintah mengatur segalanya.

Ulama’, orang berilmu mencari vaksin penawarnya. Lalu, semua kita, umat manusia seisi bumi “stay at home” — seperti bangsa Babilonia – mencari pesan bestari apa yang dibawa Coronavirus itu? Tiadalah mungkin, mau berani mampir ke bumi tanpa setahu siizinNya.

Ramadan momentum terbaik mencari jawabannya. Namun keangkuhan umat manusia terjebak merecok ramainya pasar (duniawi), sepinya baitullah (ukhrawi), padahal Ramadan segera pergi.

Kita akan tetap stay at home tanpa tahu pesan kebestarian. Mustafa Bisri meneruskan sajaknya, Corona mengajarimu/Tuhan itu bukan (melulu) pada keramaian/Tuhan itu bukan (melulu) pada syariat/Tuhan itu ada pada jalan keterputusasaanmu/Dengan dunia yang berpenyakit.

Makassar, 22 Mei 2020

Oleh : Armin Mustamin Toputiri

SUMBER: https://armintoputiri118647384.com/2020/05/21/ramadan-bersama-covid-19/

spot_img
Terkini

NasDem – Gerindra Siapkan Rusdin Abdullah di Pilwalkot Makassar

IDEAtimes.id, MAKASSAR - Nama pengusaha ternama di kota Makassar Rusdin Abdullah atau Rudal masuk dalam bursa calon Wali Kota...
Terkait

IDEAtimes.id, Opini;- Corona datang/Seolah-olah membawa pesan/Ritual itu rapuh!/Ketika Corona datang/Engkau dipaksa mencari Tuhan/Bukan di tembok Kakbah/Bukan di dalam masjid/Bukan di mimbar khutbah/Bukan dalam thawaf/Bukan pada panggilan azan/Bukan dalam shalat jamaah.

Inilah, Ramadan — bagi pengikut Muhammad SAW – diyaqini, bulan kesucian. Bulan kesembilan kalender Hijriah. Masa “getir”, dipenuhi arti untuk dimaknai. Seperti, muasal katanya, “ramida”. Yaitu “ar-Ramad”, penanda panas menyengat. Bangsa Babilonia di Utara Jazirah Arab di Selatan Mesopotamia, dulu pra-Islam menyebutnya seperti itu. “Luni-solar calender” menghitung, kalau masa “ramida” tiba, pagi hingga petang, panas matahari perih menyengat di kawasan gurun itu.

Lalu sejak Islam datang, dimulai kalender Hijriah berdasar alur bulan mengeliling bumi, sejak itu Ramadan tak lagi bertaut musim panas. Secara metaphoric, Ramadan pun beralih makna. Bulan itu umat Islam diwajibkan berpuasa. Disunnahkan “stay at home”, menahan lapar serta dahaga. Bagi yang berpuasa, berdiam diri di rumah, sesi ibadah. Tak lebih kurang sama tradisi dilakukan bangsa Babilonia. Dikala musim “ramida” tiba, mereka berlindung. Stay at home menjauhi terik.

Stay at home bagi bangsa Babilonia, serta bangsa-bangsa pra Islam, al-Qur’an Surah al-Baqarah, ayat 183, Allah SWT, berseru; “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa”.

Stay at home bagi mereka yang berpuasa, juga bangsa di Babilonia, tidak semata berhajat menjauhi terik, tapi momentum terbaik merawat ketakwaaan. Bertafakur mencari rahmat, magfirah, dan ampunan.

Ramadan, tulis penyair sufi Jalaluddin Rumi dalam buku karya agungnya, “Semesta Matsanawi”, (2018), hadir bersama gemboknya. Lalu, mulut terkunci, terbukalah penglihatan, sesaat cahaya memancar dalam diri kita. Ramadan tiba, untuk berkhidmat pada hati. Bersama, Sang penawar hati. Anand Krisna, humanis spritualis Indonesia di buku, “Kearifan Mistisisme” (2015), menulis jika puasa jalan terbaik merobohkan berhala diri, yang kita puji terang-terangan atau sembunyi.

Dan Ramadan tahun ini, bersamaan puncak Coronavirus. Pandemi yang mengglobal di seantero jagat, sama seperti wabah melanda umat manusia sebelumnya. Kita, serahi umara’, pemerintah mengatur segalanya.

Ulama’, orang berilmu mencari vaksin penawarnya. Lalu, semua kita, umat manusia seisi bumi “stay at home” — seperti bangsa Babilonia – mencari pesan bestari apa yang dibawa Coronavirus itu? Tiadalah mungkin, mau berani mampir ke bumi tanpa setahu siizinNya.

Ramadan momentum terbaik mencari jawabannya. Namun keangkuhan umat manusia terjebak merecok ramainya pasar (duniawi), sepinya baitullah (ukhrawi), padahal Ramadan segera pergi.

Kita akan tetap stay at home tanpa tahu pesan kebestarian. Mustafa Bisri meneruskan sajaknya, Corona mengajarimu/Tuhan itu bukan (melulu) pada keramaian/Tuhan itu bukan (melulu) pada syariat/Tuhan itu ada pada jalan keterputusasaanmu/Dengan dunia yang berpenyakit.

Makassar, 22 Mei 2020

Oleh : Armin Mustamin Toputiri

SUMBER: https://armintoputiri118647384.com/2020/05/21/ramadan-bersama-covid-19/

spot_img
Terkini

NasDem – Gerindra Siapkan Rusdin Abdullah di Pilwalkot Makassar

IDEAtimes.id, MAKASSAR - Nama pengusaha ternama di kota Makassar Rusdin Abdullah atau Rudal masuk dalam bursa calon Wali Kota...

Berita Lainnya

spot_img