Senin, Mei 20, 2024

Opini : 268 Juta Penduduk Indonesia Bisa Selamat Kejiwaannya Melalui Genggaman Anda

Terkait
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

IDEAtimes.id, Opini;- Jumlah pasien yang positif terinfeksi virus corona (Covid-19) di Indonesia bertambah 325 orang, sehingga total ada 6.248 hingga Sabtu (18/4).

Dari jumlah tersebut, sebanyak 535 di antaranya meninggal dunia dan 631 orang dinyatakan telah sembuh dari Covid-19. Hal itu disampaikan juru bicara pemerintah khusus penanganan Covid-19, Achmad Yurianto dalam konferensi pers, di Graha BNPB, Jakarta.

Jumlah kasus virus corona di Indonesia masih terus meningkat. Demi menekan laju penyebaran, sejumlah pemerintah daerah menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Pemberlakuan PSBB harus seizin Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto.

Sejauh ini, daerah yang telah menerapkan PSBB antara lain Provinsi DKI Jakarta, Kota dan Kabupaten Bekasi, Kota Depok, Kota dan Kabupaten Bogor, Kota dan Kabupaten Tangerang, serta Kota Tangerang Selatan. Kemudian, Kota Pekanbaru di Riau, Kota Makassar di Sulawesi Selatan, dan Kota Tegal di Jawa Tengah.

Tentu saja PSBB ini perlu disosialisasikan seperti apa modelnya, apa yang harus dilakukan dan hal-hal lain apa yang penting disampaikan. Ini juga akan menjadi pemicu stress masyarakat. Maka dari itu cara persuasif dalam menyampaikan informasi sangatlah penting. Kabar di atas jika tidak disampaiakn dengan bijak akan menyebabakan kepanikan yang luar biasa di masyarakat. Terlebih kepada orang yang tidak stabil kejiwaanya.

Layaknya seorang supir maka anda bisa mengantarkan penumpang anda kemanapun tujuan yang ingin dituju. Namun anda juga sebagai seorang supir bias mengantarkan penumpang anda ke tempat yang bias saja mebahayakan atau bahkan kecelakaan.

Itulah kenapa, seorang supir itu sangatlah vital posisinya dalam menyelamatkan penumpangnya kemanapun tujuannya. Dengan keadaan seperti sekarang ini, Indonesia membutuhkan orang-orang yang bijak dalam bersosial media, menyebarkan informasi-informasi yang positif kepada masyarakat.

Memang, waspada pada Virus Corona, sangatlah penting namun menjadi membuat masyakat menjadi panic dan ketakutan berlebihan itu sangat tidak baik. Selain bias menurunkan tingkat imunitas, ternyata bisa membawa dampak kejiawaan yang tidak stabil. Sebut saja masalah-masalah psikososial seperti kecemasan berat, panik bahkan melahirkan banyak emosional negative karena keadaan ini.

Tidak jarang kita menemukan seorang warga yang panic membeli dan memborong kebutuhan yag seharusnya tak harus dibeli (panic buying). Ternyata secara psikologi ini mempengaruhi masyarakat luas untuk melakukan hal yang sama, sehingga jadilah kepanikan berlebihan di tengah-tengah masyatakat.

Contoh yang lain, sekarang sulit anda batuk di tempat umum ketimbang membuang angina. Kenapa demikian? Karena psikologi masyarakat sudah terlanjur terbentuk pada emosional negative dan stigma yang buruk untuk seseorang yang batuk saat ini.

Padahal bisa saja seseorang batuk atau bersin sesekali karena menjadi proses proteksi tubuh atau refluks terhadap adanya gangguan, dan ini lumrah. Keadaan inilah yang terjadi di masyarakat. Tidak jarang juga kita mendapati postingan-postingan yang tendensius saling mencaci bahkan memaki.

Kita memang saat ini bekerja dari rumah (work from home) namun lihatlah yang terjadi jari jemari masyarakat sangat sulit ditahan dan dihentikan untik menuliskan postingan social media yang bersifat ancaman, menakut-nakuti juga membuat stigma negative pada satu orang bahkan satu kampung. Pernah ada seorang ibu dan teman yang mual muntah karena ketakukan yang berlebihan, tidak bisa makan, bahkan takut menonton berita hanya karena penyampaian informasi yang terkesan menakut-nakuti bahkan tidak menutupkemungkinan berbau hoax. Penyampaian suatu berita adalah hal yang positif namun cara penyampaian yang salah itu menjadi sesatu yang negatif. Itulah kenapa kita membutuhkan orang-orang yang bisa menjadi penyelamat untuk dirinya juga orang lain.

Lantas apa yang seharusnya dilakukan? Kita dituntuk menjadi supir yang cerdas untuk keselamatan diri dan orang banyak. Fisik boleh dibatasi bahkan dikekang untuk melakukan physical distancing namun untuk melahirkan ide-ide dan pemikiran positif tidaklah terbatas. Stop menyebarkan hoax, stop menyebarkan ancaman, caci maki, dan berita tendensius serta stigma negative.

Waspada pada Covid 19 boleh saja namun kalau sduah berlebihan pada hal negative dan menyebebkan kepanikan maka sebaiknya segera dihentikan. Baru-baru ini muncul berbagai macam postingan positif via facebook dengan berbau challange yang mana memposting foto yang tersenyum atau sedang menebarkan aura positif hingga tantngan itu menjalar dari satu orang ke orang lain. Ini merupakan upaya yang perlu ditingkatkan untuk menghilangkan stigma negative dan menyebarkanluaskan kebaikan.

Teruslah menbarkan gambar-gambar atau kalimat positif melalui ponsel anda karena itu bisa meningkatkan pengaruh kesembuhan pasien dan mengurangi tingkat sress masyarakat. Pasien Covid 19 bisa sembuh dan kita semua punya andil untuk mempercepat kesembuhan dan terputusnya penyebaran Covid 19 di Indonesia.

Tidak heran jika saat ini banyak disediakan tempat nongkrong online atau sekedar diskusi dan pelayanan konseling hanya untuk menangani kejiwaan masyarakat luas agar tetap tenang dan tidak panic. Trauma healing banyak dilakukan di berbagai daerah melalui online sangat berguna untuk mengurangi kepanikan dan meningkatkan imunitas.

Brajakson Siokal, S.Kep.,Ns.,M.Kep (Dosen Universitas Muslim Indonesia)

Mahasiswa Doktoral (S3) Universitas Hasanuddin.

Terkini

Ketua DPRD Sulsel Berikan Lukisan untuk Bahtiar Baharuddin Karya Armin Toputiri

IDEAtimes.id, MAKASSAR - Ketua DPRD Sulsel, Andi Ina Kartika Sari menyerahkan kenang-kenangan berupa lukisan kepada mantan PJ Gubernur Sulsel,...
Terkait

IDEAtimes.id, Opini;- Jumlah pasien yang positif terinfeksi virus corona (Covid-19) di Indonesia bertambah 325 orang, sehingga total ada 6.248 hingga Sabtu (18/4).

Dari jumlah tersebut, sebanyak 535 di antaranya meninggal dunia dan 631 orang dinyatakan telah sembuh dari Covid-19. Hal itu disampaikan juru bicara pemerintah khusus penanganan Covid-19, Achmad Yurianto dalam konferensi pers, di Graha BNPB, Jakarta.

Jumlah kasus virus corona di Indonesia masih terus meningkat. Demi menekan laju penyebaran, sejumlah pemerintah daerah menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Pemberlakuan PSBB harus seizin Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto.

Sejauh ini, daerah yang telah menerapkan PSBB antara lain Provinsi DKI Jakarta, Kota dan Kabupaten Bekasi, Kota Depok, Kota dan Kabupaten Bogor, Kota dan Kabupaten Tangerang, serta Kota Tangerang Selatan. Kemudian, Kota Pekanbaru di Riau, Kota Makassar di Sulawesi Selatan, dan Kota Tegal di Jawa Tengah.

Tentu saja PSBB ini perlu disosialisasikan seperti apa modelnya, apa yang harus dilakukan dan hal-hal lain apa yang penting disampaikan. Ini juga akan menjadi pemicu stress masyarakat. Maka dari itu cara persuasif dalam menyampaikan informasi sangatlah penting. Kabar di atas jika tidak disampaiakn dengan bijak akan menyebabakan kepanikan yang luar biasa di masyarakat. Terlebih kepada orang yang tidak stabil kejiwaanya.

Layaknya seorang supir maka anda bisa mengantarkan penumpang anda kemanapun tujuan yang ingin dituju. Namun anda juga sebagai seorang supir bias mengantarkan penumpang anda ke tempat yang bias saja mebahayakan atau bahkan kecelakaan.

Itulah kenapa, seorang supir itu sangatlah vital posisinya dalam menyelamatkan penumpangnya kemanapun tujuannya. Dengan keadaan seperti sekarang ini, Indonesia membutuhkan orang-orang yang bijak dalam bersosial media, menyebarkan informasi-informasi yang positif kepada masyarakat.

Memang, waspada pada Virus Corona, sangatlah penting namun menjadi membuat masyakat menjadi panic dan ketakutan berlebihan itu sangat tidak baik. Selain bias menurunkan tingkat imunitas, ternyata bisa membawa dampak kejiawaan yang tidak stabil. Sebut saja masalah-masalah psikososial seperti kecemasan berat, panik bahkan melahirkan banyak emosional negative karena keadaan ini.

Tidak jarang kita menemukan seorang warga yang panic membeli dan memborong kebutuhan yag seharusnya tak harus dibeli (panic buying). Ternyata secara psikologi ini mempengaruhi masyarakat luas untuk melakukan hal yang sama, sehingga jadilah kepanikan berlebihan di tengah-tengah masyatakat.

Contoh yang lain, sekarang sulit anda batuk di tempat umum ketimbang membuang angina. Kenapa demikian? Karena psikologi masyarakat sudah terlanjur terbentuk pada emosional negative dan stigma yang buruk untuk seseorang yang batuk saat ini.

Padahal bisa saja seseorang batuk atau bersin sesekali karena menjadi proses proteksi tubuh atau refluks terhadap adanya gangguan, dan ini lumrah. Keadaan inilah yang terjadi di masyarakat. Tidak jarang juga kita mendapati postingan-postingan yang tendensius saling mencaci bahkan memaki.

Kita memang saat ini bekerja dari rumah (work from home) namun lihatlah yang terjadi jari jemari masyarakat sangat sulit ditahan dan dihentikan untik menuliskan postingan social media yang bersifat ancaman, menakut-nakuti juga membuat stigma negative pada satu orang bahkan satu kampung. Pernah ada seorang ibu dan teman yang mual muntah karena ketakukan yang berlebihan, tidak bisa makan, bahkan takut menonton berita hanya karena penyampaian informasi yang terkesan menakut-nakuti bahkan tidak menutupkemungkinan berbau hoax. Penyampaian suatu berita adalah hal yang positif namun cara penyampaian yang salah itu menjadi sesatu yang negatif. Itulah kenapa kita membutuhkan orang-orang yang bisa menjadi penyelamat untuk dirinya juga orang lain.

Lantas apa yang seharusnya dilakukan? Kita dituntuk menjadi supir yang cerdas untuk keselamatan diri dan orang banyak. Fisik boleh dibatasi bahkan dikekang untuk melakukan physical distancing namun untuk melahirkan ide-ide dan pemikiran positif tidaklah terbatas. Stop menyebarkan hoax, stop menyebarkan ancaman, caci maki, dan berita tendensius serta stigma negative.

Waspada pada Covid 19 boleh saja namun kalau sduah berlebihan pada hal negative dan menyebebkan kepanikan maka sebaiknya segera dihentikan. Baru-baru ini muncul berbagai macam postingan positif via facebook dengan berbau challange yang mana memposting foto yang tersenyum atau sedang menebarkan aura positif hingga tantngan itu menjalar dari satu orang ke orang lain. Ini merupakan upaya yang perlu ditingkatkan untuk menghilangkan stigma negative dan menyebarkanluaskan kebaikan.

Teruslah menbarkan gambar-gambar atau kalimat positif melalui ponsel anda karena itu bisa meningkatkan pengaruh kesembuhan pasien dan mengurangi tingkat sress masyarakat. Pasien Covid 19 bisa sembuh dan kita semua punya andil untuk mempercepat kesembuhan dan terputusnya penyebaran Covid 19 di Indonesia.

Tidak heran jika saat ini banyak disediakan tempat nongkrong online atau sekedar diskusi dan pelayanan konseling hanya untuk menangani kejiwaan masyarakat luas agar tetap tenang dan tidak panic. Trauma healing banyak dilakukan di berbagai daerah melalui online sangat berguna untuk mengurangi kepanikan dan meningkatkan imunitas.

Brajakson Siokal, S.Kep.,Ns.,M.Kep (Dosen Universitas Muslim Indonesia)

Mahasiswa Doktoral (S3) Universitas Hasanuddin.

spot_img
Terkini

Ketua DPRD Sulsel Berikan Lukisan untuk Bahtiar Baharuddin Karya Armin Toputiri

IDEAtimes.id, MAKASSAR - Ketua DPRD Sulsel, Andi Ina Kartika Sari menyerahkan kenang-kenangan berupa lukisan kepada mantan PJ Gubernur Sulsel,...

Berita Lainnya

spot_img